Sano dan Piano

Musim panas desember 1999. Sano berumur 22 tahun. Seorang cowok yang menyukai piano dan mempunyai impian menjadi pianis terkenal. Pukul sembilan pagi di studio musik, terjadi pembicaraan serius antara manajer studio dengan Sano.
“aku sudah mendengar sampel musikmu, kau punya selera musik yang bagus”.
“Benarkah!” wajah riang menyelimuti Sano.
“Tapi tak cukup hanya bakat untuk bisa terjun secara profesional di industri musik”. Ucap manajer studio yang membuat wajahnya berubah.
“Heh!” dan wajah Sano berubah menjadi mendung.
“Kau kuliah tingkat 4 kan? Lebih baik kau pusatkan perhatianmu untuk kuliah”.


Keluar dari studio wajah Sano benar-benar berubah seperti pakaian kusut yang belum disetrika dan dengan kesal Sano membuang hasil sampel musik pianonya yang ia buat tadi malam. Dan tanpa sengaja seorang gadis berambut panjang memperhatikan tingkah laku Sano. Kemudian gadis itu memunggut cd yang Sano buang.

Sesampainya di apartemen, Sano mendapat telfon dari ibunya.
“Hai Sano! Kamu barusan kemana sih?” ibu Sano bertanya seakan-akan Sano narapidana yang harus diintrogasi oleh polisi.
“Habis dari studio musik, Bu” jawab Sano seperti orang yang kelaparan.
“Kamu masih main piano?”
“Kenapa kamu masih ngotot main piano, kuliah kamu tuh diurus dulu!” ucap ibunya dengan geram.
“Sudah ya Bu, Sano sibuk nih”.
“Hai, Sano! Tunggu..” wajah Sano semakin suram, dia hanya bisa menghela nafas panjang, dan tiba-tiba Sano dikagetkan oleh seorang gadis yang tadi memunggut cd Sano. Gadis itu tiba-tiba saja sudah berada di sebelah Sano.
“Huwwwaaaaaaaa…!!!” teriak Sano seperti ngeliat hantu.
“Hai?” sapa gadis itv
“Si…siapa kamu, dari mana kamu masuk, kok tiba-tiba udah disini?”
“He..he.. Kaget ya? Aku masuk dari pintu dan namaku Fui” jawab gadis itu dengan lugu dan seakan-akan dia nggak melakukan salah.

“Sano, disini panas ya?”
“Hei..hei.. Bagaimana kau tahu namaku?”
“Dari ini, cd yang tadi kamu buang di tepi jalan, benarkah namamu?” Fui menyodorkan cd itu.
“Cd ini sudah aku buang, kenapa kamu ambil!”
“Sayang kan! Ini hasil karyamu, siapa tahu suatu saat bisa berguna. Lebih baik kamu simpan” jawab Fui sambil memainkan rambutnya yang panjang sepunggung itu.
“Sano! Fui boleh minta minum?”
kemudian Sano memberikan minuman kesukaannya kopi kaleng dari dalam rak. Dan segera menyuruh Fui pulang.

Keesokan harinya, sepulang dari kuliah Sano bertemu dengan Fui lagi. Gadis itu mengajak ke suatu tempat. Studio kosong yang sudah dilengkapi dengan piano, meja sofa panjang, dan kamar tidur kecil.
“Studio, piano, dan tempat tidur ini aku sewakan untuk kamu”.
“Apa maksudnya, kenapa kau lakukan semua ini.. Kau pikir aku akan percaya setelah semalam kau datang ke apartemenku.?”
“Sudahlah, diam saja.. Oiya, aku punya Sesuatu untukmu..nih, bacalah!” Fui menyodorkan secarik kertas yang berisi tentang kolaborasi piano & kesenian tradisional ke dalam musik jazz, tanggal 21 desember di salah satu gedung pertunjukan tua di kotanya. Setelah membacanya, wajahnya begitu riang.
“Yap..yap..yap.. Bagaimana? Kurasa kau tak akan menolaknya, yasudah.. kau harus berjuang.. Emm,, dan ini sengaja kubawakan beberapa kopi kaleng kesukaanmu. Semangatlah kawan.”
“Fui, siapa kamu sebenarnya?”
“Sudahlah..tak perlu kau tahu. Tapi tindakanku nggak salahkan?” balasnya dengan senyum mungil dan bergegas menyuruh Sano memainkan piano, jantung Fui merasakan getaran aneh dan begitu bersemangat.

Hari yang di nanti pun tiba dengan suasana sore yang cerah dan sejuk. Waktu menunjukkan pukul 4 sore, tapi Sano sudah memulai latihannya sebelum malam nanti, tiba-tiba tak lama kemudian.
“Hai Sano!” Fui datang dengan senyuman yang sangat ceria.

“Hai Fui… Tampak ceria sekali kamu? Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa, Aku nggak sabar pengen liat kamu nanti malam.. Niih, aku bawain 2 kopi kaleng”
“Makasi yah, aku udah bikin kamu repot sejauh ini”
“Santai saja.. Aku tulus kok bantuin kamu”.

Melihat ketulusan Fui, Sano mulai menyukainya juga. Tapi perasaan Sano masih diselimuti dengan pertanyaan-pertanyaan tentang diri Fui, gadis yang tiba-tiba datang dikehidupannya.
“Sano..gimana? Kamu sudah siap?”
“Tentu saja, dan aku yakin aku akan memainkan piano sebaik mungkin.. Dan aku akan membuat mereka semua terkesan..”
“Tentu, dan Fui nggak sabar pengen liat kamu”. Senyum manis mengembang di bibir Fui. Sebelum Sano memulai latihan, Sano memberanikan diri bertanya tentang diri Fui. Seperti yang sudah-sudah, Fui hanya membalas dengan senyum.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Sano mempersiapkan diri untuk segera berangkat ketempat pertunjukkan.

” Ya ampun, Sano! Kenapa lamban sekali?” kehadiran Fui yang tiba-tiba membuat Sano terkejut untuk kesekian kalinya.

Kenapa kamu selalu hadir secara tiba-tiba sih, Fui? Kayak hantu aja”
Fui hanya tersenyum.
Mereka berduapun berangkat. Terasa kebersamaan yang erat dengan senyum tawa yang indah, tapi kebahagiaan itu hanya sebentar, karena suatu kejadian yang berawal ketika Vespa Sano berhenti di depan minimarket.. kala itu Sano ingin membeli beberapa minuman dan ingin menelepon ibunya.
“Fui kamu tunggu disini ya? Aku mau ke telfon umum sekalian beli kopi kaleng di seberang jalan itu. Sebentar kok” Fui menganggukkan kepala.

Namun ketika Sano menyebrang, tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kencang dan sepertinya dikendalikan oleh orang yang mabuk. Melihat itu, Fui segera beranjak dan menolong Sano..
Bruuaaaaakkkkkk….
tubuh mungil itu tepelanting beberapa meter.. Ternyata Fui yang tertabrak. Anehnya tak satupun darah menetes dari tubuh Fui, yang ada hanya lecet-lecet di sekitar pergelangan tangan dan kakinya. Sano membawa Fui kepinggir jalan.
“Fui bertahanlah!”.
“Sano…kau ingin tahu siapa Fui kan?” Sano mengangguk.
“Sano.. Fui adalah makhluk halus, Fui udah meninggal 1 tahun yang lalu karena sakit. Fui ingin menampakkan diri pada Sano pun karena kecintaan Sano pada piano. Fui juga suka piano, makanya Fui ingin membantu Sano mewujudkan impiannya”.
“Sudah jangan bicara terus”. Air mata mulai mengalir di pipi Sano.
“Fui dulu juga ingin menjadi seorang pianis, karena kanker darah dan Fui akhirnya meninggal, impian itu jadi hilang, cepatlah pergi!, Sano harus menggapai impian. Buat Ibumu bangga, buat dunia melihatmu. Maafkan aku nggak bisa liat kamu, berjuang ya, no? Fui sayang Saan…no” suara itu hilang.

Tiba-tiba tubuh Fui lenyap tak berbekas, Sano hanya duduk lemas seperti kehilangan semangat.
“Cepat pergi Sano! Kau harus tunjukkan sesuatu, jadikan Ibumu bahagia, buat mereka semua terkesan, bawalah kopi kaleng ya Sano?”
Mendengar ucapan terakhir dari Fui, semangat Sano kembali. Dia segera pergi. “Aku akan berhasil Ibu dan Fui”. Gumam Sano.

Ketika tampil, Sano membawa kopi kalengnya, dia memainkan piano dengan bersemangat. Karena semangatnya itu, Sano berhasil menjadi pianis muda berbakat dan mampu menggapai mimpinya. Dan dia mendapat julukan “si kopi kaleng”. Dengan begitu, ibu Sano sangat bangga akan prestasi luar biasa anaknya.
“Terima kasih Fui, kau telah memberi aku yang terbaik. Kau akan selalu aku kenang dan kusayangi selalu”. Gumam Sano

(diGol)@rocketmail.com

  1. #1 by kinoy on 28 Oktober 2011 - 4:39 PM

    waaa… terharu.. Dream,Believe, Pray, Work smart and Make it happen !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: