“A Simple Thing Of Tiara”

Ingat tiara adalah ingat seorang cewek kecil yang lucu, lincah dan ceria banget. Tapi keceriaan itu pernah kuganggu, karena aku melukainya meski sebenarnya aku tidak pernah menginginkan itu.
“Hai! Kamu kenapa?!” waktu itu aku lagi jongkok mengamati Vespa-ku yang rusak dan aku sedikit kaget denger suara cempreng di belakang ku.
“Ban motorku pecah nih,” Kataku sama cewek yang belum ku kenal banget itu.
Tiara atau Ara, panggilannya, keluar dari mobil.
“Mestinya motor kamu dibawa ke bengkel, tuh deket sana ada bengkel. Aku antar apa gimana nih?”


“Udah biar aku sendiri aja,” kataku sambil menuntun motorku ke bengkel yang nggak begitu jauh dari tempat itu. Nggak lama kemudian Ara menyusulku di bengkel.
“Aku tahu kamu butuh tumpangan untuk pulang.” Katanya.
Aku tertawa, “Tau aja kamu. Makasih ya..,” kataku sembari masuk ke mobilnya.
“Mobil abangku,” kata Ara ngejelasin pertanyaan yang belum sempat kulontarkan.
“O… Pantes,”
“Pantes apaan?”
“Anak sekecil kamu belum pantas punya mobil, jadi pantes pinjam..”
“Uh… Sialan. Kamu nggak bakalan tertolong kalau aku nggak bawa mobil.”
“Iya.. Iya. Becanda kok,”
“Lagian siapa yang mikir,”
Aku sama Ara terdiam agak lama. Lalu Ara nanya lagi.
“Kamu tadi ujian matematika bareng aku kan?”
“Masa? Kok aku nggak tahu sih?”
“Ah kamu….dasar!”
“Aduh, bener deh aku nggak tahu. Sorry…,” Aku jadi nggak enak sama Ara.
“Nggak pa pa,”
“Jadi kamu anak Janabadra juga ya?”
“Ya iya lah”
“Oh… Sorry aku nggak ngerti. Ohya sekarang kita kenalan. Namaku Beltham,”
“Tiara, atau biasa dipanggil Ara.” jawab Ara sambil membalas jabatan tanganku
“Eh, di mana nih rumah kamu?” tanya Ara.
“Jalan Pahlawan nomer 10.”
“Eh yang bener aja… Berarti ngelewatin rumahku dong. Aku jalan Mawar 21”
“Hah, sejalur ya..”
Hari itu Ara nganterin aku dan waktu ngelewatin rumahnya dia nunjukin rumahnya itu ke aku.’
“Makasih banget ra,” kataku sesampai dirumah.
“Entar aku pasti main ketempatmu deh.” Ara mengangguk.
“Bawa cokelat yang banyak ya..” pesannya dengan tawa yang ceria banget.

‘setelah Vespa-ku beres aku main ke Ara. Bawa tiga batang cokelat kayak pesannya. Tujuanku waktu itu sih sebenarnya cuma mau ngucapin terimakasih aja atas pertolongannya kemarin, tapi aku jadi tertarik waktu lihat Ara lagi mainin keyboardnya.’

“Aku lagi nyoba bikin lagu nih, Tham.” katanya.
“Tapi aku udah capek banget.., keluar aja yuk.” Akhirnya aku dan Ara main keluar.
“Jadi hobi kamu nyanyi ya Ra?” tanyaku.
“Ah, nyanyi sih nggak bisa banget Tham, aku lebih suka bikin lagu.”
“Bikin lagu? Hebat dong…”
“Ah, Beltham, kayaknya kamu nggak percaya deh. Awas ya nanti aku bukti’in bener kalau aku bisa buat lagu.”
“Lho, kok marah sih aku percaya kok.” Ara cemberut dan tampangnya lucu banget.

“O…iya, acara Jazzology di kampus tanggal dua belas nanti kamu ikut nggak?” wajah Ara berubah jadi sedih.
“Nggak tau Tham, pengennya sih ikut. Tapi aku lagi ada masalah sama teman-teman bandku.”
“Kenapa?”
“Nggak tau lah,” Ara mengangkat bahu
“Mungkin aku mau dikeluarin dari band.” jawabnya cuek.
“Jangan pesimis gitu dong Ara, kamu kudu fight. Oke?”
“Mudah-mudahan,” jawab Ara.
“Dan jangan lupa, tanggal dua belas nanti pasti aku pengen liat kamu nyanyi” kataku, Ara cuma tersenyum nggak yakin.

‘Tanggal 12 sekitar jam 19 malam, kampus udah ramai. Beberapa band udah tampil termasuk Pelangi Pink, band Ara. Tapi nggak ada Ara di band itu yang ada malahan cewek cantik yang jadi vokalis tapi suaranya kurang ok. Aku tahu Ara pasti lagi sedih banget waktu itu.
Aku mengurungkan niat untuk liat pertunjukan, lalu main kerumah Ara. Kulihat Ara lagi duduk sendirian nonton TV dengan tampang sedih.’

“Kenapa kamu di rumah Ra?”
“Temen-temen udah sepakat ngeluarin aku, jawab Ara sambil menahan tangisnya.
“Aku nggak tahu kenapa mereka bisa kayak gitu. Aku udah berusaha memberikan yang terbaik buat mereka. Tapi itu semua nggak berarti sama sekali,” Ara sudah nggak bisa menahan tangisnya. Sebulir titik bening jatuh dari mata Ara dan Ara langsung mengusapnya.
Aku jadi kasian banget sama Ara.
“Udahlah Ra, temen-temenmu berbuat kayak gitu bukan berarti usahamu itu sia-sia. Siapa tahu nanti kamu bisa gabung sama band lain yang lebih baik, ia kan?”
Ara berusaha tersenyum mendengar nasehatku.
“Lagian, kamu dikeluarin pasti ada alasannya. Coba kamu pikir apa.”
“Nggak ada, nggak ada,” Ara ngeyel
“Masak nggak ada?”
“Cuma karena aku nggak secantik Patty aja,” Ara cemberut lucu.
Aku ketawa geli, “Nggak mungkin. Kamu udah temenan lama sama mereka, pasti nggak akan ngeluarin kamu kalau nggak bener-bener ada masalah.” Ara ngembusin nafas.
“Baik-baik aku ngaku, akhir-akhir ini aku memang jarang latihan.”
“Nah..kan!”
“Iya tapi…,” Ara gelisah.
“Aku punya alasan sendiri kenapa aku jarang latihan, aku punya urusan pribadi.”
“Duh, urusan pribadi, kayak orang penting aja,” ledekku
“Iya, emang urusan pribadi. Aku tahu Tham, kamu pasti nggak bisa ngerti, kayak temen-temenku itu.”
“Emang urusan pribadimu apa? Ngurusin anak?” tanyaku bercanda.
“Uh kamu dasar jelek,” umpat Ara sambil benerin bantal dan naruh kepalanya di bantal.
“Aku ngurusin monyet cakep Tham.”
“Hah, siapa?!” tanyaku agak heran sekaligus kaget dan bingung.
“Monyet cakep yang bikin aku tergila-gila, tapi juga menyusahkan aku.”
“Pacarmu?” Ara mengangguk
“Padahal dulu dia baik banget. Kamu tahu pas Sheila On 7 belum terkenal, dulu aku sama dia nonton konsernya bareng Es Nanas dan band-band lainnya. Trus Alas beli’in aku kaset Sheila dan dia bilang aku adalah anugerah terindah yang pernah dia miliki. Gombal banget ya, tapi nggak apa-apa, aku senang kok denger gombalannya.” Aku tersenyum mendengar cerita Ara.
“Tham, dia itu romantis banget. Trus dia juga sayang banget sama aku, tapi aku semakin benci sama dia,”
“Trus kalau dia sebaik itu, kenapa kamu benci dia?”
“Dia suka ngedrugs.”
“Separah itu??!” Aku agak kaget. Ara mengangguk sedih.
“Sampai sekarang aku masih berusaha balikin dia kayak dulu, tapi nggak bisa. Dia malah semakin parah. Dia tambah suka judi, hutangnya banyak.”
“Kamu harus lebih merhatiin dia, Ra.”
“Iya, makanya gara-gara itu aku jadi jarang latihan. Aku jadi nyepelein bandku. Dan akhirnya yang aku dapat cuma kayak gini. Aku dikeluarin dari band dan pacarku tidak berubah sama sekali.” kata Ara sedih.

‘aku merhatiin Ara yamg tiduran disampingku. Kelihatan banget kalau dia punya banyak beban dan aku kasihan banget sama dia.’

“Yang bikin aku tambah sedih, kayaknya ada cewek lain yang suka sama Alan, Namanya Dira. Tham, Dira itu cantik, nggak kayak aku cuek gini. Dira sering banget main ke kos Alan. Terus terang Tham, aku takut kehilangan Alan. Aku sayang banget sama dia. Nggak tahu kenapa, rasanya aku yakin sebenarnya Alan nggak nakal, dia cuma terpengaruh sama teman-temannya. Aku yakin Alan masih bisa berubah, tapi kalau Alan sama Dira…kupikir dia akan semakin parah. Aku tahu siapa Dira.”
“Alan sendiri. Emangnya dia juga suka Dira?”
“Nggak tahu Tham, mereka kayaknya semakin dekat aja. Aku tahu, Dira memberi kebebasan sama dia karena Dira juga rusak kayak gitu. Mungkin Alan pikir aku mengekang dia, padahal sebenarnya aku sayang banget sama dia.”
‘Aku dan Ara terdiam agak lama, kami terlarut dalam pikiran masing-masing. Lalu aku bilang.’
“Udahlah Ra, cowok macam dia nggak perlu dipikirin. Kamu lupain aja dia, ya?”

“Nggak bisa. Lagian trus aku sama siapa?”
“Tenang Ra…kan ada aku. Janji deh, aku selalu ada buat Tiara.”
“Janji?”
“Suer.”
Ara tersenyum. “Makasi Tham, kamu memang sahabatku yang paling baik.”
Lalu Ara bangkit dan berjalan ngambil sebuah kaset.
“Ini buat kamu,” katanya.
“Apa ini?”
“Lagu ciptaanku yang seharusnya aku nyanyiin di kampus sekarang. Tapi nggak ada gunanya, Tham, mending lagu ini buat kamu deh. Aku puterin ya.”
Terdengarlah suara Ara yang sederhana tapi bagus dengan iringan gitarnya.

If you see a simple thing
It’s a simple thing of me
It’s a simple thing i have
It’s a simple thing i need to show

I just a need a little smile
When i’ve been sad
I just need a little touch
When i’ve been down
It’s all to give me up

I don’t have wonderful stories
About million stars in the night
It’s only a story
about sun
in the morning i have
I don’t have a warm strong
like the magic of angel

It’s only a song with
My guitar to show
That i really glad to be yours’

Aku terpana banget dengerin lagu Ara.
“Bagus banget, bener lagu ini buat aku?”
“Siapa lagi? You’re my best friend now!” jawabnya.
“Makasi Ra, suatu saat nanti aku pasti balas,” janjiku
Ara ketawa, padahal aku ngomong serius lho.
“Kamu mau balas? Balas pakai apa?” Aku mengusap kepala Ara.
“Aku tahu gimana kamu, aku tahu apa yang kamu inginkan. Kamu butuh perhatian dan aku akan memberikan itu. Aku sayang banget sama kamu, Ra,” kataku.
‘lalu aku mencium kening Ara. Kami bertatapan cukup lama dan saling bergenggaman tangan. Dan mungkin itu adalah awal dari kesalahanku. Sejak saat itu aku semakin dekat sama Ara. Aku sering banget menghabiskan waktu bareng dia. Itu karena aku sangat iba dan sangat menyayanginya. Aku seperti nggak tega membiarkan dia sendiri dalam masalahnya. Aku seperti nggak rela menyiakan senyum dan tawa cerianya.

Aku senang banget bersama Ara, sampai-sampai aku lupa kalau sudah lama aku memiliki bidadari lain. Ega adalah bidadari yang benar-benar beda dengan Ara. Dia Anggun dan kelihatan lebih dewasa dari Ara. Dia lembut dan perhatian sama aku. Tapi dia juga tidak memiliki apa yang Ara miliki. Sifat cuek dan keterusterangannya yang aku sukai pada diri Ara tidak ada pada Ega. Senyum Ega lembut, tidak selepar tawa Ara. Ega juga tidak pernah melucu seperti Ara. Ega pendiam, nggak selincah dan sekreatif Ara. Mungkin aku sudah jadi bagian dari cowok yang dianggap cewek sebagai cowok terjahat di dunia. Aku mulai banding-bandingin antara dua cewek, aku mulai mengobral janji pada mereka berdua, dan parahnya aku nggak tau janji mana yang bisa aku tepati.
Aku nggak tahu. Aku benar-benar nggak bisa menentukan pilihan, aku pasti akan menyakiti salah satu dari mereka. Dan aku nggak tega melakukan itu. Entah Ega entah Ara, semua benar-benar aku sayangi. Aku nggak bisa membayangkan gimana Ega yang lembut itu akan terluka sekali. Tapi aku juga nggak bisa ninggalin Ara. Aku sudah terlanjur janji macam-macam sama Ara. Aku tahu, Ara pasti akan pura-pura tegar, tapi dibalik ketegarannya itu pasti dia sedih banget kayak waktu ditinggalin temen-temen bandnya dan disakitin Alan dulu.’

‘Akhirnya semua itu kuserahkan pada waktu. Biar saja yang menjawab semua itu. Aku cuma akan berjalan seperti apa adanya, hingga akhirnya detik-detik waktu itu meledak. Ara tahu kalau sebelumnya aku sudah pacaran sama Ega.’

“Tham, katakan siapa sebenarnya Ega…” kata Ara.
“Ega?!” aku kaget Ara bertanya seperti itu.
“Siapa Dia?” tanyaku pura-pura.
“Aku sudah curiga sejak dulu,” Ara tetap yakin.
“Waktu aku ngetik pakai disketmu banyak nama file Ega di sana, dia ditulis sama istimewanya sama aku. Aku juga tahu isi email yang mau kamu kirim ke Ega. Dan sebenarnya aku juga tahu waktu kamu beli dua bunga valentine. Tham, katakan dengan jujur padaku, kamu membohongi aku kan?”
“Aku..aku..”
“Sudahlah Tham,” kata Ara.
“Aku ngerti. Aku nggak pernah marah sama orang yang melakukan kesalahan sama aku.. Setiap kesalahan yang dibuat pasti selalu ada alasannya, termasuk kebohonganmu.Pasti ada alasan kenapa kamu membohongi aku iya kan?”

‘aku masih terdiam, bingung mau menjawab apa. Aku merasa seperti penjahat bodoh yang sedang dihakimi oleh seorang hakim pintar.’

“Tham, kamu kasian sama aku, karena itu kamu macarin aku kan?” kata Ara lagi.
Dan lagi-lagi, kalau aku mau jujur, tebakan Ara itu benar.
Aku cuma menunduk dan nggak bisa menjawab pertanyaan Ara yang menyudutkan. Lalu aku melihat sebuah titik bening di mata Ara waktu dia cerita tentang Alan dulu. Aku benar-benar kasihan kalau sudah melihat Ara seperti itu. Akhirnya kugenggam dua tangan Ara,
“Maafkan aku Araaa..” hanya itu yang keluar dari mulutku.
“Nggak apa-apa,” Ara mencoba tersenyum, meski yang kulihat tetap wajah sedihnya.
“Aku cuma kecewa kenapa kamu nggak terus terang sama aku sejak dulu.”

‘aku makin merasa bersalah, tapi aku tetap nggak bisa berbuat apa-apa.’

“Tham, aku tahu, aku yang datang terakhir kali, mungkin aku yang harus mengalah untuk Ega. Aku tahu aku bersalah kalau aku tidak meninggalkanmu,” kata Ara tercekat.
Kulihat bibir Ara bergetar, lalu sebutir air mata jatuh membasahi pipinya. Ingin ku peluk erat-erat, tapi Ara menolaknya.
“Sudahlah Tham, mulai sekarang kita sudah nggak ada apa-apa lagi. Biarkan aku pergi ya.” kata Ara sambil mengusap air matanya.
“Tapi Ra, kita kan masih bisa berteman, kita masih bisa saling memperhatikan, masih bisa….”
“Ah sudahlah Tham, rasanya aku nggak bisa. Dulu memang aku bisa menganggapmu teman yang paling baik, tapi setelah janji-janji yang kamu ucapkan itu. Setelah banyak hari-hari manis yang kita lalui, aku sudah nggak bisa menganggapmu sebagai teman. Aku tahu sulit untuk melupakan semua itu, dan aku nggak akan pernah bisa melupakan kalau aku masih dekat sama kamu, meskipun itu hanya sebatas temam. Beri kesempatan padaku untuk ngelupain kamu ya Tham.”

‘aku tidak tahan merasakan sesalku. Seandainya pantas rasanya aku ingin menangis. Tapi itu tidak pantas kulakukan meski aku tahu aku adalah seorang cowok pengecut. Aku cuma bisa terdiam sambil menyaksikan Ara pergi meninggalkanku. Aku terus memperhatikan Ara yang melangkah dengan sedih, aku tahu dia sangat terluka. Sementara lagu a simple thing of me yang dulu dinyanyhkan Tiara masih terngiang di telingaku. Seandainya waktu bisa berjalan mundur, rasanya aku ingin kembali lagi ke masa itu dan bersahabat biasa dengan Tiara. Tapi semua itu sudah terjadi, aku sudah terlanjur melakukan peranku sebagai cowok pengecut yang tidak bisa menolong Ara yang aku sayangi.’

Setelah setahun berlalu. Kudengar lagu a simple thing of me diputar di radio,

oleh: D.Y@gmail.com – 1999

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: