Seni rupa Melindungi dan Melayani Siapa?

Seni rupa
Melindungi dan Melayani Siapa?

Dalam dunia seni rupa, istilah “underground” sering dilekatkan pada aktivitas Situationist International, kelompok seni rupa perlawanan politik & artistik di Eropa tahun 1957-1972 yang mengakar pada paham Marxisme & Lettrisme. Kelompok ini mengembangkan seni rupa sendiri dengan menentang segala hal yang ‘mainstream’, bergerak di bawah tanah, radikal, & ideologis.

Di Indonesia, istilah “underground” tak pernah lekat secara utuh pada praktik seni rupa. Masalahnya, sebagian perupa di sini masih ingin tampil, termasuk melalui ruang pameran umum, seperti galeri. Sebutan “alternatif” dianggap lebih pas karena memang mereka mengajukan tawaran gagasan, bentuk, dan presentasi yang menyempal dari arus seni rupa umum.

Sejak kapan semangat itu tumbuh? Secara pribadi, perupa Moelyono telah bergerilya menggalang aktivitas seni rakyat dari desa ke desa tahun 1980-an dan kerap disebut sebagai gerakan “penyadaran”. Namun, kemunculan seni alternatif secara terang dan melibatkan komunitas tumbuh sejak tahun 1990-an.

Menurut Direktur Ruang Rupa, Ade Darmawan, semangat alternatif pada awal dan pertengahan 1990-an diperlihatkan komunitas Core-Komik, Apotik Komik, dan Taring Padi di Yogyakarta. Setelah Reformasi 1998 meruntuhkan rezim Orde Baru dan teknologi internet makin mendukung, anak-anak muda semakin bersemangat berekspresi secara berbeda. Tahun 2000-an muncul Ruang Rupa di Jakarta dan Common Room di Bandung yang giat membuat jaringan dan menjadi tempat nongkrong banyak komunitas alternatif.

Di Jakarta, misalnya, ada kelompok Marginal, Stenzila, Propagrafiti, Karma, Artcoholic, Tembok Bomber, Maros, Sakit Kuning Collectivo, dan Serrum. Di Yogyakarta hadir Ruang Mes 56, Daging Tumbuh, dan Kampung Halaman. Di Bandung, ada Button Culture 21, Ujung Berung Rebels, Ultimus, Balkot, PI (Punk Rock), dan Minor Bacaan Kecil.

“Awalnya, mereka berekspresi dalam musik, lalu meluas ke film, seni rupa, fashion, dan sastra pop,” kata Kimung, penggiat Ujung Berung Rebels, yang menulis buku ‘My Self Scumbag’, berisi memoar penyanyi Burgerkill, Ivan Firmansyah, yang meninggal tahun 2006.

ANTIKAPITALISME
Mereka sama-sama membangun gagasan, menggunakan media, dan mempresentasikan seni rupanya di luar wacana yang mapan. Secara umum, gagasan mereka bersemangat antikapitalisme, anti-industri pabrikan, menolak politik arus utama, dan menyempal dari norma sosial umum. Pendek kata, inilah ekspresi perlawanan & kebebasan kaum muda di kota-kota.
“Pasar kapitalisme memihak orang kaya & menyingkirkan orang miskin sehingga memicu degradasi kemanusiaan. Kami melawan itu dengan membangun kehidupan mandiri,” kata Ucok “Homicide” (34), perupa sekaligus vokalis & penulis lagu untuk band Triggermortis.

 

Media yang digunakan bermacam-macam, mulai dari komik, grafiti, mural, zine, drawing, stiker, ilustrasi, video, fotografi, atau desain kaos. Mereka menghindari media umum yang mudah dikomersialkan, seperti lukisan atau patung. Karya-karya itu banyak disebarkan lewat fotokopi, cetak, sablon, atau lewat sarana di jalanan sehingga lebih lekat dengan karakter ‘street art’.

Komik & mural jadi tumpuan ekspresi, sesuai dengan semangat “Do it your self”. Contohnya, komik Athonk alias Sapto Rahardjo, komik Cha’oer, Daging Tumbuh, Marginal, dan Super Condom. Komik-komik itu diperbanyak secara stensilan & diedarkan secara independen.

“Komik membuat saya bisa bergerak bebas,” kata Norvan, pembuat komik ‘Super Condom’ sejak 1997 sampai sekarang. Mural banyak digarap di atas tembok di jalan-jalan, seperti di bawah ‘flayover, underpass,’ atau gardu listrik.Mereka biasa datang untuk “ngebom” dinding dengan gambar–gambar mural pada malam hari. “Kami merebut jalanan dari hegemoni iklan atau jargon birokrasi & menjadikannya sebagai galeri seni publik,” kata Indra Ameng & Reza Affisina, penggiat seni alternatif dari Ruang Rupa.

KARAKTERISTIK
Bagaimana karakteristik karya alternatif? Mereka mengandalkan strategi apropriasi, yaitu mencomot simbol, ikon, atau lambang visual yang populer, memainkannya, lalu membajaknya untuk menyuarakan “perlawanan”. Meski karyanya beragam, mereka mengusung semangat sama: pluralisme, individualisme, independensi, dan feminisme.
Arian, vokalis band Seringai di Jakarta, misalnya, pernah mendesain gambar polisi sedang memegang pentungan di kaos bagian depan. Di bagian belakangnya ditulisi pernyataan: “Melindungi dan Melayani Siapa?” Kaos provokatif ini membuat sejumlah pemakainya ditangkap & diinterogasi polisi di Bandung Tengah, akhir Agustus lalu. “Pekan lalu, saya datang ke Polsek Bandung Tengah untuk dimintai keterangan. Saya tidak menghina institusi negara atau aparat, tetapi hanya mengajukan pertanyaan…,” kata Arian.

(Ilham Soetjokro & Digiie Witjaksono)

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: