Gairah Indie…

Gairah Indie…

Apa akar pemikiran gerakan indie di Indonesia? Anda mungkin akan sulit melacaknya. Pasalnya, gerakan indie di sini tidak berakar pada sebuah pemikiran yang jelas kecuali bagaimana menciptakan pasar baru.


Akhir Agustus lalu, Hall Basket Senayan berubah menjadi ajang pesta komunitas indie. Belasan band indie di hadapan ribuan penggemarnya di ajang LA Lights Indiefest 2008. Mereka mempertontonkan berbagai aliran musik yang mereka klaim berada di luar selera arus utama bentukan industri besar yang dalam bahasa anak muda sekarang disebut lagu cinta ‘menye-menye’.

Boleh jadi, inilah festival musik indie terbesar saat ini di Indonesia. Menurut penyelenggara Indiefest, Irwan Edianto, band indie yang ikut seleksi meningkat dari tahun ke tahun. Ketika pertama kali digelar tahun 2006, band yang ikut mencapai 1.500, tahun 2007 menjadi 1.700, dan tahun 2008 menjadi 2.100 dari seluruh Indonesia.

Angka-angka di atas mungkin bisa menggambarkan secara sederhana betapa banyak grup band yang melirik jalur indie. Angka sebenarnya pasti jauh lebih besar karena sebagian dari mereka menolak festival semacam itu. Mereka memilih tampil di ajang komunitas yang bebas dari beban kompetisi dan aturan main sponsor.

Gairah indie di Indonesia juga bisa dideteksi di dunia mode dan seni rupa. Di dunia mode, gerakan indie ditandai dengan munculnya distro dan industri ‘clothing’. Di seni rupa, gairah indie ditandai dengan munculnya mural, grafiti, dan komik fotokopian.

Gustaff H Iskandar, Direktur Common Room–sebuah tempat kumpul anak-anak muda kreatif di Bandung–menjelaskan,gerakan indie pada dasarnya menyerap semangat gerakan ‘underground’ yang menyempal atau melawan hegemoni budaya mapan seperti industri kapitalisme, media, budaya pabrik, dan politik negara. semangat menyempal ini diterjemahkan dengan membangun kreativitas, sikap independen, dan sikap otonom. Caranya dengan membangun semuanya secara mandiri. Di musik, musisi indie membuat album sendiri dan mendistribusikannya sendiri.

AKAR TAK JELAS
Bagaimana melacak akar pemikiran gerakan indie di Indonesia? Bin Harlan Boer, manajer band Efek Rumah Kaca, mengatakan, di bidang musik, gerakan indie yang berkembang saat ini merujuk pada gerakan musisi tahun 1980-an dan 1990-an. Band yang menginspirasi antara lain band cadas Metallica.
“Pengaruh Metallica tidak hanya pada musiknya, tetapi lebih dari itu gerakannya,” kata Bin. Sebelum band itu masuk ke label utama, mereka menerapkan sistem ‘trade trading’ untuk mendistribusikan albumnya secara independen. Grup band itu menukar album produksinya dengan album produksi grup band lain.

Kemudian, album tukaran itu diperbanyak lagi dan dipertukarkan lagi ke grup-grup lain dan komunitasnya. Begitu seterusnya hingga album itu tersebar luas. Sistem ini dinilai sukses & membuat Metallica dilirik label utama.

Dari sini, lanjut Bin, anak-anak band di Indonesia sadar bahwa sebuah band bisa terkenal asalkan bisa membuat terobosan-terobosan yang kreatif, termasuk dalam mendistribusikan kaset. Selanjutnya, muncul band Nirvana pada awal tahun 1990-an di Amerika Serikat yang melakukan gerakan “back to basic”, yakni bermusik hanya dengan menggunakan gitar, bas, dan drum. Dengan cara itu, Nirvana yang memulai gerakannya sebagai band indie mengakhiri era musik heavy metal dan disko, sekaligus memicu demam aliran grunge ke seluruh dunia.

“Bayangkan, dengan lagu-lagu yang sederhana dan bisa dimainkan dengan tiga kunci, Nirvana bisa terkenal dan memberi perubahan,” ujar Agus Sasongko, pemilik label indie Lil’Fish. Di Inggris, situs www.ministryofrock.co.uk menyebutkan, musisi-musisi indie ketika itu melahirkan brit pop. Tonggak utamanya adalah band Oasis dan Blur.

Agus menambahkan, band-band itu benar-benar memberikan inspirasi bagi anak-anak muda di Indonesia ketika itu. Anak-anak muda segera meniru semangat perubahan yang di usung band-band indie dunia, apalagi di Indonesia saat itu industri musik sedang membosankan.

“Saya pun ikut mencari terobosan baru dengan memperkenalkan musik elektronik. Sikap dasarnya yang penting gue suka, terserah orang lain,” kata Agus yang dulu menjadi pentolan band indie Future Sound of Pejaten (FSOP).

Menurut Managing Editor ‘Rolling Stone’ Indonesia Adib Hidayat, penanda penting gerakan band indie Indonesia adalah Pas Band, Pure Saturday, dan Puppen asal Bandung. Pas Band membawa warna grunge dan rock alternatif, Pure Saturday membawa brit pop, dan Puppen membawa hardcore. Aliran musik itu banyak diusung band-band indie Indonesia hingga kini.

Pas Band ketika itu memproduksi sendiri album mereka, ‘4 Through The SAP’, tahun 1994 dan mendistribusikannya melalui distributor kaset Tropic. Perusahaan rekaman besar Aquarius kemudian merilis ulang album itu. Sekitar setahun kemudian, Pure Saturday memproduksi albumnya sendiri dan mendistribusikannya melalui majalah ‘Hai’.

Seiring dengan perubahan politik pascatumbangnya Presiden Soeharto yang ditandai dengan semakin longgarnya ruang untuk berekspresi, band-band indie terus tumbuh. Selanjutnya, gerakan indie semakin masif dengan maraknya teknologi komunikasi, terutama internet, dan peranti lunak rekaman yang murah.

Meski gerakan indie begitu masif, ternyata gerakan indie di sini bisa dibilang tidak memiliki akar pemikiran yang jelas. Gerakan ini, meski memiliki semangat melawan hegemoni budaya arus utama, ternyata tidak ada hubungannya dengan gerakan budaya tanding yang sangat ideologis yang muncul pada tahun 1960/1970-an.

Adib Hidayat mengatakan, yang ditiru oleh gerakan indie disini sebatas bentuknya saja. “Terutama bagaimana membuat terobosan untuk membuka pasar baru,” ujarnya.

“Kami hanya mengambil semangat perubahannya dalam bermusik dan mendistribusikan album, bukan ideologinya,” tambah Agus Sasongko.

Meski tanpa akar pemikiran yang jelas, namun gerakan ini tetap memberikan sesuatu yang baru di Indonesia. Gerakan indie berhasil membangun infrastruktur ekonomi baru seperti distro, industri ‘clothing’, label indie, dan ‘event organizer’ indie. Nilai “ekonomi indie” juga tidak bisa disepelekan. Industri ‘clothing’ dan distro di Bandung saja menghasilkan duit puluhan miliar sebulan. Wow! (DHF/IAM/NMP/GDW)

  1. #1 by odoygiant on 1 Juni 2011 - 11:28 PM

    Dasar grakan indie di indonesia cukup jelas, yaitu kemiskinan! Miskin idea intuk kreatip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: