Reggae, Indonesia “Vibration”

Why, why do I love the music why does it made it dancin’ once it turns once it plays and my feet start to sway.

Sebait lirik lagu dari single Jamaica’s Away (Souljah), yang belakangan sedang sering diputar di radio-radio, sangat menggambarkan musik reggae. Jamaica sendiri memang enggak bisa kita lupakan saat kita berbicara tentang musik ini. Beberapa sumber mengatakan, musik ini gara-gara orang Jamaika mengadopsi variasi sinkopisasi rhythm gitar dari New Orleans R&B yang mereka dengar dari radio di tahun 60-an. Lalu, sedikit up tempo, terciptalah musik ska yang menjadi cikal bakal reggae. Ada lagi sumber yang mengatakan bahwa ska berawal dari musik asli Jamaika yang bernama Mento, yang berkembang sejak tahun 40-an.

Akhirnya saat musim panas, orang terlalu malas untuk berdansa up tempo. Sedikit mengendurkan tempo musik, irama lebih mengayun & terkesan bermalas-malasan, itu yang sekarang kita kenal dengan reggae.

Beberapa nama “pahlawan” reggae bermunculan, dari Jimmi Cliff, Horace Andy, sampai akhirnya melahirkan seorang legenda bernama Bob Marley.

Bob Marley
Bob Marley memang paling berpengaruh di dunia reggae. “Reggae mulai makin dikenal luas setelah Bob Marley meninggal,” begitu pendapat Tony Q, yang identik dengan reggae di Twelve Blues Bar, Menteng, Jakarta, setiap Rabu & Jumat. Lagu-lagu Bob Marley yang meninggal di tahun 1981 ini sering terdengar di songlist-nya. Bersaing dengan lagu-lagu karyanya sendiri yang sudah terkumpul dalam dua album.

Di Bali, lagu-lagu Bob Marley juga menguasai panggung-panggung musik reggae. Apache, sebuah bar yang identik dengan reggae di kawasan Legian, hampir tiap hari mengumandangkan lagu-lagu Bob Marley. “Senin khusus membawakan lagu-lagu Bob Marley. Selasa lagu lain, diselingi lagu-lagu Bob Marley. Lha, Bob Marley thok?” protes seorang pemerhati kesenian bermusik di Bali, Rudolph Dethu. “Reggae nggak cuma paman Bob (bob marley), tapi juga ada Peter Tosh, Black Uhuru, Jimmy Cliff, dan sebagainya. Dan reggae itu secara tidak langsung menembus kawasan elektronika, yaitu Drum N’ Bass,” tambah Dethu lagi.

“Kami sempat mau bawain selain Bob Marley, tapi pasti ada yang minta lagu-lagu Bob Marley,” komentar Joni Agung musisi reggae yang mengisi acara setiap Senin di Apache.

Reggae “vibration”
Seperti kata Dethu, reggae sebenarnya memang sudah beranak pinak. Bahkan, sejak awal kemunculan reggae, ada Alton Ellis dengan rocksteady (sekarang kayak No Doubt gitu deh). Dan Lee “scratch” Perry memulai memakai sampling-sampling suara, yang membuat musiknya disebut dub. Dan bermunculanlah rock and folk base ala Bob Marley sampai yang sangat pop oriented seperti yang dilakukan oleh UB 40.

Di Yogyakarta tidak ada bar yang identik dengan reggae. Tapi, lewat acara kampus yang ada hampir tiap minggu, band-band reggae unjuk gigi. Berbicara reggae di Yogyakarta tak bisa memalingkan muka dari sebuah grup ska yang masih konsisten hingga sekarang, Shaggy Dog. Sejak berdirinya di tahun 1995, band ini memang mematok ska reggae sebagai aliran hidup mereka. “Kowena,” ujar Heru, sang vokalis Shaggy Dog, saat diminta menyebut nama band reggae Yogya favoritnya. Sayang, Kowena sepertinya tidak terlalu berminat hidup. Sempat muncul sekali di Citos, lalu menghilang lagi. “Tapi, sekarang banyak banget band reggae di Yogya dan variatif,” tambah Heru.

Heru sendiri memuaskan jiwa reggaenya lewat Dub Youth. “Kalau ini reggae campur elektronika,” jelasnya tentang proyek Dub Youth yang dimulai sejak dia memiliki sebuah groove box.

Reggae “got soul”

Belakangan mungkin orang tidak merasakan kehadiran reggae secara jelas. Tapi, begitu banyak band yang terpengaruh oleh reggae. Dari yang ngepunk (Rancid), rocksteady (No Doubt), ragga (Shaggy & Sean Paul), dancehall (Outkast), sampai yang rock ‘n folk (John Buttler Trio). Di dalam negeri, setelah era keemasan Anak Pantai-nya almarhum Imanez, Tony Q tidak berjuang sendirian. Ada Steven & Coconut treez yang punya single Welcome to My Paradise. Sekilas band ini mengingatkan kita kepada Big Mountain yang ngetop lewat Baby, I Love Your Way beberapa tahun lalu. Joni Agung di Bali juga melepas album Reggae Mebasa Bali (reggae berbahasa Bali).

Yang paling anyar adalah band asal Bekasi yang baru saja merilis album Breaking The Roots, Souljah. Reggae yang dimainkan Souljah lebih cenderung memasuki daerah elektronika. Banyak nuansa ragga lewat toasting (semacam ngerap dengan gaya Jamaika), dan beat dancehall untuk lagu-lagu berirama riang mereka. Bahkan, belakangan band-band papan atas mencoba memainkan reggae. Seperti Dewa yang mencoba berdansa lewat lagu Matahari, Bulan, Bintang. “Setiap orang boleh saja main reggae. Yang penting ada soul-nya,” ujar Gung Jon mengomentari soal ini.

“Lagu itu bagus, tapi kurang bagus untuk dibilang reggae,” kata Heru. Ia lebih memilh lagunya Nugie, Bisa Lebih Bahagia. Terlepas dari siapa dan bagaimana memainkannya, semua pentolan reggae itu setuju kalau fenomena itu cukup membantu mengenalkan reggae ke tingkat yang lebih luas.

Reggae “jammin”

Perluasan reggae di Indonesia ini begitu terbuka. Setiap pemusik ini punya jalan masing-masing untuk menyebarkan musik reggae. Tony Q dengan senang hati berbagi panggung dengan band-band reggae baru. “Tadi ada band Bekasi, namanya Peron One. Minggu depan ada lagi, namanya The Dread,” ujar Tony sambil tersenyum seusai pertunjukkannya pada Rabu malam di Blues Bar.

Steven & Coconut treez adalah salah satu yang dulu rajin “mengganggu” panggung Tony Q. Sekarang Steven sudah merilis debut album The Other Side. Steven juga sedang giat mengumpulkan band-band reggae untuk diajak bikin proyek album kompilasi.

Joni Agung di Bali tak pernah berhenti bermain reggae. Senin dia akan berada di Apache Bar. Selasa dan Jumat dia manggung di Soda Bar, Sanur. Lalu, Minggu dan Rabu pesta reggaenya di gelar di Putra Bar, Ubud. Heru “Shaggy Dog” tidak hanya aktif menyebarkan reggae lewat panggung. Tapi juga lewat siaran radio. Bersama sang manajer Dread Met, mereka punya program Simmerdown di Star FM Yogya. Geronimo FM, Yogya, juga punya acara Rabu Reggae yang usianya sudah cukup lama.

Jika ingin menikmati reggae di Jakarta, kita juga bisa datang ke Parc, yang menawarkan DJ-DJ yang memainkan lagu-lagu dub dan reggae setiap Selasa. Drum N’ Bass yang cenderung elektronika sekarang ini juga mulai sering jadi musik tema ditempat-tempat klubing yang biasanya di dominasi hip-hop dan R&B.

Ternyata Indonesia memang cukup berpotensi untuk reggae. Ada dua band yang jaringannya sudah internasional. Tony Q and New Rastafara terdaftar sebagai headliners di acara Legend Of Rasta Reggae Festival (www.legendofrastareggaefestival.com). Dan Shaggy Dog yang rencananya pertengahan tahun ini berangkat ke Festival Mundial, Belanda, untuk yang kedua kalinya. Dan bukan tidak mungkin akan makin banyak band-band pop/rock lain yang menyelipkan reggae dalam musik mereka.

_Teguh Andrianto & Digiie Witjaksono Tim Muda.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: